KONAWE UTARA – Harapan masyarakat di tiga desa lingkar tambang Mandiodo, Tapuemea dan Tapunggaya, Kecamatan Molawe, untuk turut menikmati “kue” pembangunan hingga kini belum sepenuhnya terwujud. Ironisnya, akses vital berupa jalan yang menjadi urat nadi aktivitas warga masih dalam kondisi rusak parah dan jauh dari kata layak.
Di sejumlah titik, kondisi jalan tampak hancur dengan bebatuan tajam serta genangan lumpur yang menghambat mobilitas warga. Saat musim hujan, jalan berubah menjadi kubangan licin, sementara di musim kemarau dipenuhi debu dan batu yang mengganggu kenyamanan berkendara.
Sekretaris DPC Gerindra Konawe Utara, Ashari, menegaskan kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan. Ia mendesak Pemerintah Kabupaten Konawe Utara bersama perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh.
“Kerusakan ini sudah sangat parah dan berisiko tinggi bagi keselamatan masyarakat. Harus ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah maupun pihak perusahaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran kendaraan berat, khususnya truk angkutan tambang, yang diduga menjadi salah satu penyebab utama kerusakan jalan. Karena itu, menurut alumni Fisip Unhalu para pemilik IUP harus ikut bertanggung jawab terhadap kondisi infrastruktur yang terdampak aktivitas operasional mereka.
“Pemerintah, DPRD, pelaku usaha dan masyarakat harus duduk bersama agar keresahan rakyat dapat teratasi. Bila dibiarkan berlarut, kondisi ini berpotensi memicu konflik vertikal,” tambahnya.
Ashari menambahkan, apabila ke depan jalan tersebut berhasil dibeton secara menyeluruh, hal itu diyakini akan menjadi catatan penting dan kesan mendalam bagi masyarakat di tiga desa lingkar tambang MTT.
“Kalau jalan ini benar-benar dibeton, tentu akan menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah dan perusahaan. Ini akan dikenang masyarakat sebagai bagian dari perubahan besar di wilayah mereka,”ujar Kader Prabowo Subianto.
Warga setempat mengaku semakin kesulitan beraktivitas akibat kondisi jalan tersebut. Distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan turut terganggu.
“Kalau hujan, kami takut lewat karena licin dan dalam. Sudah banyak yang hampir jatuh,” ungkap seorang warga Kecamatan Molawe.
Meski sebelumnya sempat ada upaya perbaikan darurat, kondisi jalan dinilai belum mengalami perubahan signifikan. Masyarakat pun berharap adanya penanganan serius dan berkelanjutan agar jalan poros tersebut kembali layak digunakan. (redaksi)






