KONAWE UTARA– Pagi itu, langit Wanggudu Raya berwarna teduh. Angin menyapu pelan dedaunan, seolah ikut menyambut langkah para prajurit berseragam loreng yang datang bukan dengan derap sepatu tempur, melainkan dengan senyum dan tangan yang penuh bawaan sederhana, beras, telur, minyak goreng, sebungkus harapan untuk dapur warga.
Mereka adalah para Babinsa Koramil 1430-02/Asera, Serda Ld. Hasrat, Serda Fajar, Serda La Arman dan Kopda Randuk yang turun langsung, bukan sekadar menyerahkan sembako, tetapi juga menyapa, menanyakan kabar dan mengikat hati dalam jalinan persaudaraan.
Di sudut rumah kayu sederhana, Warga Kusnadi menyambut dengan mata berkaca-kaca. Sementara Musdalifah menggenggam erat paket sembako yang diberikan, seolah di dalamnya tersimpan bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga perhatian, kepedulian dan rasa tidak sendiri. “Alhamdulillah, terima kasih, Nak,” ucapnya.
Bantuan itu memang tak banyak, beras lima kilogram, telur satu rak dan sebotol minyak goreng. Namun, bagi yang menerima, itu adalah cahaya kecil yang mampu menghangatkan hati di tengah derasnya kebutuhan hidup.
“Bakti sosial ini adalah wujud cinta kasih TNI untuk rakyat. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penjaga negeri, tetapi juga sahabat yang mengulurkan tangan,” ujar salah seorang Babinsa.
Kegiatan itu adalah bagian dari peringatan HUT TNI ke-80, sebuah perayaan yang tak hanya diramaikan dengan upacara dan simbol militer, tetapi juga dengan tindakan nyata yang meneguhkan jati diri TNI, lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat dan kembali kepada rakyat.
Di balik loreng yang tegas, ternyata ada hati yang lembut. Dan di balik sembako yang sederhana, tersimpan pesan besar bahwa TNI bukan sekadar barisan prajurit, melainkan saudara yang akan selalu hadir dalam suka maupun duka rakyatnya. (REDAKSI)






